Sabtu, 20 Agustus 2016

Teman

Ngga mesti orang yang selalu ada. Ngga mesti orang yang paling dekat. Ngga mesti orang yang ngga punya hubungan darah dengan kita.

Your brother could be your friend. Your cousin could be your friend. Your father could be your friend. So could your mum.

Teman adalah mereka yang mau mengerti kekurangan kita dan menerima kita apa adanya. Tidak memaksa kita menjadi orang lain, apalagi membiarkan kita dalam kepura-puraan yang menyiksa batin.

Bersama mereka kita ngga perlu takut dihina. Bersama mereka kita ngga perlu takut dimarahin. Bersama mereka kita ngga akan risih dengan berantem, karena pasti akan balik seperti semula lagi.

Teman, menjadi indikator baik-buruknya kita. Kalau mau kenal seseorang, lihat dengan siapa ia bergaul. Kalau berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan kebagian wanginya. Kalau berteman dengan penempa besi, kita akan ikut kena percikannya.

Berarti berteman harus pilih-pilih. Pilih yang baik. Pilih yang dekat dengan Allah jadi kita pun selalu ingat Allah dan malu kalau berbuat dosa. Pilih yang suka berbagi dengan orang lain. Pilih yang bersama mereka kita yakin kita bisa menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Yang ngga boleh itu pilih-pilih sikap dalam memperlakukan orang lain, ngga adil dalam memutuskan.

Sudahkah ibuk dan ayah menjadi teman kita? Sudahkan saudara-saudara kita menjadi teman kita? Karena teman bukan sebatas kenalan, tapi memahami dan menerima. Termasuk teman hidup nantinya.



Jumat, 08 Juli 2016

koas

Selamat hari raya idul fitri 1437 H semuaa.. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin ya. Paling ngga adalah satu rakaat shalat kita yang membuat Allah melimpahkan rahmatNya untuk kita di kehidupan sebenarnya besok :)


Well, ceritanya  ini saya mau cuaps-cuaps sedikit tentang dunia koas. Lebih tepatnya curhat, hahaha...

Jadi, mulai 27 Juni kemarin alhamdulillah saya mulai menjalani kehidupan sebagai dek koas aka dokter muda. Stase pertamanya saraf. Terhitung tanggal 8 Juli ini saya sudah memasuki minggu kedua dari 4 minggu di stase saraf. Which means, saya tinggal punya 2 minggu lagi untuk belakar saraf. Cepet banget, rasanya saya belum belajar apa-apa heuheu...

Memasuki dunia koas entah kenapa saya merasa ada tekanan tersendiri yang membuat saya cukup stress. Rasanya jadi gampang mual, tangan jadi sering tremor, dan bawaannya pengen di rumah terus aja, ngga mau di rumah sakit. Kalau udah di rumah sakit, pasti nunggu banget yang namanya jam pulang. Kalau bisa ngga usah sering-sering ketemu dokter-dokter, ngga usah sering-sering ketemu pasien, pokoknya mau menghindar dari semua tetek bengek per-koas-an.

Kaya sekarang ini, di saat teman-teman saya mungkin udah belajar banyaak banget, saya masih di sini-sini aja. Ketinggalan. Mungkin cukup jauh. Heuheu sedih gitu jadinya.  Saya masih ngga tahu gimana caranya menyesuaikan diri dan gimana cara belajar selama memasuki dunia koas ini. Masuk jam 06.00 terus ikut visite residen-residen saraf, terus ikut ilmiah pagi di mana residen-residen mempresentasikan kasusnya, terus kosong atau ikut visite konsulen kalau ada yang visite, terus ilmiah siang, terus kosong, terus pulang. Ngga ada lecture kaya dulu pas jaman S1. Jadi emang kita harus belajar sendiri. Padahal selama ini saya jarang belajar kalau di kontrakan (hahaha ketauan). Makanya jadi pontang-panting gini.

Hari pertama masuk koas aja saya udah berpikir bahwa saya ingin mengakhiri kehidupan koas ini segera! Saya ngga ngerti apa yang membuat dokter-dokter residen berpikir untuk melanjutkan kehidupan (seperti) koasnya beberapa tahun lagi buat jadi spesialis.

Saya tau dan percaya banget sih bahwa semua orang pasti mengalami takut atau cemas pada hal-hal baru, dan itu wajar. Cemas karena pertama kali ke luar negeri yang jauh. Cemas pertama kali ujian pas jadi mahasiswa. Semua orang pasti cemas (yah at least ngerasa grogi lah ya) pada hal-hal baru yang harus dihadapinya. Namanya juga ada sesuatu yang berubah.

Dan saya tau saya harus mem-push diri saya untuk bisa melewati ini dengan selamat (hahaha rendah banget ya standarnya). Dhilah bilang, "Itu karena Nikari belum ke rumah sakit jejaring aja, Nik. Belum yang jadi dokter benerannya. Kalau di Sardjito kan kita emang ngga bisa ngapa-ngapain. Kalo di rumah sakit jejaring, kita rasanya kayak jadi dokter beneran."

Mungkin iya. Mungkin gitu. I don't know. Yah dijalanin dulu aja lah ya... Toh alhamdulillah akhir-akhir ini dapet banyak pelajaran kan, pelajaran kehidupan :p


"Ya Allah, kuatkan dan karuniakan kesabaran buatku, ya, Ya Allah :")"

ceritanya akif di blogger lagi

soalnya password tumblr automatically changed gitu karena udah beberapa tahun dan saya lupa password email akun tumblrnya hahahaha


udah ngabarin aja ._.






ngga deng :p

Selasa, 08 Juli 2014

Dear Little Sister

Barakallahulaki :D You're a senior high school student now. What a day! Welcome to a life full of journey. Welcome to a lie full of curiousness :)

Well, ini bukan guideline atau semacamnya, ini hanya ringkasan nasihat-nasihat yang mungkin bisa berguna buat hidupmu beberapa waktu kedepan selama di SMA. Dibuat berdasarkan pengalaman semata. Hehe..

Dear little sister, cukup benar apa yang sering orang katakan kalau masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Tapi lebih tepat lagi seperti ini : masa SMA adalah masa yang membuat kamu sadar siapa diri kamu sebenarnya. Sebesar apa potensi yang kamu miliki. Sejauh apa kamu bisa bermimpi. Seberani apa kamu mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupmu. Setinggi apa kamu berani bercita-cita. Sehebat apa dirimu di masa depan. Semua itu bermula ketika di SMA. Ketika kamu bertemu dengan orang-orang yang mulai menunjukkan karakter mereka. Ketika kunci kebebasan sebenarnya sudah berada di tanganmu. Ketika kamu lihat sebagian orang berjuang untuk cita-citanya, sebagian lagi berjuang untuk menunjukkan siapa dirinya. Ketika semua orang mulai menyalakan mesin mobil, motor, pesawat, atau bahkan jet tempur mereka untuk mencapai cita-cita.

Kamu akan berada pada lingkungan baru, dengan teman-teman baru. Tentu dibutuhkan adaptasi untuk itu semua. Bertemanlah dengan semua orang. Bertemanlah dengan mereka yang baik amal shalehnya, agar kamu ikut terbawa shaleh bersama meraka. Bertemanlah dengan mereka yang besar cita-citanya, agar luas pandanganmu terhadap dunia. Bertemanlah dengan mereka yang rajin belajarnya, agar tidak tertinggal langkahmu mendengar cita-cita. Bertemanlah dengan mereka yang rajin membaca, karena dengan mereka kamu bisa bertukar wawasan seluas-luasnya. Juga bertemanlah dengan mereka yang mungkin masih bolong-bolong shalatnya, lalu ajak mereka untuk shalat bersamamu. Atau mereka yang masih malu menutup auratnya, lalu ajaklah ia agar bangga ia menjadi seorang muslimah. Bertemanlah dengan siapapun, namun siapkan filter di dalam benakmu. Tidak semua hal harus kamu terima. Pilihlah dengan bijak mana yang diperbolehkan Allah, dan mana yang tidak diperbolehkan Allah. Hanya mereka yang membawamu pada hal yang benar yang boleh lolos filter tersebut. Ingat ya, hanya hal yang benar. Bukan hal yang baik. Karena tidak selamanya yang baik adalah hal yang benar.

When you're a high school student, you're too old to make mistakes, but too young to be listened. Hey, but it's okay. Semua orang belajar karena pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kita tidak mengulangi salah yang sama. Selalu mengevaluasi diri setiap kali melakukan kesalahan. Beranilah mengambil kesempatan karena belum tentu ia datang dua kali dalam kehidupan kita. Lebih baik kita gagal melakukan sesuatu tetapi kita telah mencobanya, daripada tidak mencoba sama sekali. Manusia adalah tempat salah, jadi melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi.

Mungkin akan ada suatu masa dimana kamu akan bertemu dengan seseorang yang lebih cerdas darimu, lalu kamu mengagumi caranya memandang dunia. Atau mungkin pula ada orang yang memerhatikanmu lebih dari siapapun karena caramu menjaga dirimu. Fall in love is a very great feeling. Tentu tidak ada yang melarang kita untuk tidak jatuh cinta. Tetapi akan sangat rugi jika masa-masa penting ini kamu habiskan hanya untuk memikirkan sesuatu yang belum pasti. Ingatlah bahwa masa SMA adalah masa kita membentuk diri menjadi lebih kuat. Yakinlah bahwa suatu hari nanti, ketika dirimu telah benar-benar menjadi wanita yang cerdas dan berani, Allah akan datangkan laki-laki yang lebih pantas menemani langkahmu ke surga.

Dear little sister, I've had my high school time done. I met great people. I met lovely people. Mereka yang menghargai setiap usahamu, mendukungmu ketika kamu rapuh, bersedia berjuang bersamamu untuk mewujudkan semua mimpi, adalah mereka yang harus selalu kamu ingat dalam hidupmu. Mereka yang selalu bisa membuatmu tersenyum, mereka yang selalu membuatmu bersemangat, adalah mereka yang kehadirannya harus selalu kamu syukuri. Dan mereka yang selalu mau mendengarkan keluh kesahmu dan tidak sungkan memberi nasihat kepadamu, adalah mereka yang tidak boleh lupa kamu sebut namanya dalam doa-doamu. Merekalah sahabat-sahabat terbaikmu.

Maknailah masa SMA ini sebagai masa untuk membentuk dirimu di masa depan, bukan sekedar masa untuk bersenang-senang apalagi bermain-main. Petiklah hikmah dari semua yang kamu alami. Belajarlah memahami pesan-pesanNya melalui kejadian demi kejadian dalam hidupmu. Mungkin langkahmu akan tersendat, mungkin banyak kerikil di jalanmu menuju tujuanmu, tapi apalah arti kesuksesan tanpa adanya perjuangan.

Have a blessed high school time, sweetheart :)

Dari kakakmu yang pernah merasakan masa (sejenis) SMA,
Nisa Karima

Sabtu, 28 Juni 2014

Cerita Esok Hari

Esok, akan ada apa, ya? Akan ada dimana aku esok hari? Di kontrakan kah? Di masjid kah? Di asrama di jakal atas sana kah (may be it takes time to me to call it home)? Di sejuta tumpukan kertas OSCE kah? Di tengah kerumunan kah? Di tengah ributnya pikiranku sendiri kah? Atau malah berlari-lari di pikiranmu? Sepertinya yang satu itu tidak

Mungkin esok, ada hati yang harus berjuang lebih gigih karena seluruh dirinya tidak boleh lagi jadi miliknya. Bukankah memang sejak awal diri kita tidak pernah menjadi milik kita sepenuhnya? Ya. Tapi... selalu ada tapi untuk hal ini. Ada hati yang harus lebih sabar menjalani hari-hari. Ada lisan yang harus lebih terjaga dalam berkata. Ada wajah yang harus lebih banyak tersenyum ketika bersua. Ada hati yang harus lebih kuat menahan rindu, amarah, dan keluh kesah. Ada hati yang harus lebih bijaksana melihat dan menerima berbagai kejutan kehidupan yang sementara ini.

Ada hati yang harus hidup, meskipun perih, dengan rasa syukur atas semua kebaikanNya. Jadi, hati, berjuanglah menjadi tangguh, okay? Mata, berjuanglah untuk tidak menangis.

Mungkin juga, esok, aku ada di tengah para pengejar mimpi. Mereka banyak berpikir, juga banyak bertindak. Mereka tidak berputus asa atas kegagalan, juga tidak bersedih hati atas kekalahan. Dokter, insinyur, penulis, wartawan, pengusaha, atau ustadz mungkin, mereka tidak akan kalah oleh rasa malas dan rasa takutnya. Dan pasti aku akan bertanya-tanya apakah pantas berada diantara mereka. Mereka berani berasa bahkan lebih tinggi dari langit yang aku tahu. Lalu aku tidak lagi sama.

Mungkin esok, aku sudah berada di puncak gunung. Menyengajakan diriku terpapar dingin dan berharap wajahku memucat karenanya. Ditemani pikiran-pikiranku, juga perasaan-perasaanku. Dimanja suara air, sepoi angin, juga bau tanah basah yang selalu aku suka. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin mencari keheningan dari suara-suara lain dari pikiran orang lain. Lalu kembali pulang menjadi diriku sendiri. Untuk kembali.

Mungkin esok, aku sedang duduk di atas bukit, bersama orang asing (atau mungkin tidak asing lagi?) yang secara tiba-tiba menyelinap kedalam pikiran-pikiranku dan aku tidak bisa lagi memintanya keluar dari sana. Ditemani juga oleh semangkuk mie ayam dan jeruk hangat. Lalu membicarakan esok hari yang lebih baru, yang tidak pernah aku pikirkan.

Ah. Esok.

Akan jadi apa aku esok hari? Jika esok benar-benar datang, masihkah aku menjadi aku yang sama?

Senin, 17 Maret 2014

Tanya yang Tiba-tiba Hadir

Kita sama-sama menua, sama-sama mendewasa. Waktu berlari begitu cepat tanpa kita sadari. Tujuh, sembilan, lima  belas, tujuh belas, lalu dua puluh, lalu tiga puluh, lalu enam puluh. Ah, tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi esok bukan? Juga tidak ada yang tahu bahagia atau sedih kita esok hari. Entah siapa yang akan kita dapatkan besok, mungkin saja hadiah yang selama ini kita impikan. Kita tidak tahu perasaan apa yang akan sampai kepada kita besok, mungkin haru dan ragu yang membaur menjadi satu. Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui besok, mungkin seseorang yang cukup dengan kehadirannya, atau kita ketahui kalau ia baik-baik saja, kita merasa tenang. Seseorang yang selalu kita tunggu kabarnya. Seseorang yang akan selalu berada di depan kita setiap kali shalat malam.

Apa yang paling jauh di dunia ini? Masa lalu. Karena tidak ada satu pun alat yang bisa membawa kita kembali ke sana. Semua orang tahu. Kenapa? Mungkin agar kita lebih menghargai waktu kita. Mungkin agar kita lebih menghargai orang-orang yang berada bersama kita. Juga, lebih menghargai perasaan-perasaan kita.

Time flies... No one is going to get back to the past, to their happiest moment, to their most wonderful moment. Tidak sepantasnya kita meminta kembali lagi ke masa lalu. Bukan masanya lagi terus menginginkan apa yang ada di masa lalu. Hidup ini terus berjalan, maju, maju, berhenti, lalu maju lagi dan maju terus hingga kita sendiri tidak tahu di mana akhirnya. Kanan, atau kiri. Gunung, atau laut. Timur, atau Barat. Dicintai, atau mencintai.

Waktu menyelinap pergi tanpa kita sadari, begitu pelan dan halus...

... bersamaan dengan masuknya segala tanya ketika mengingat masa lalu : apakah masih sama apa yang dulu tertinggal ... ?

Jumat, 28 Februari 2014

menuju titik februari

dan besok maret sudah menginjakkan kaki. rindu bulan lalu seperti terkumpul jadi satu, di titik februari. masih banyak doa yang belum diucapkan. Ia memang Maha Mendengar, tapi bibir ini seharusnya juga menjadi saksi cinta kepada orang-orang yang ada di sana. masih banyak 'apa kabar' yang belum tersampaikan. bahkan air mata rasanya belum cukup untuk menggambarkan rindu.

kita sudah hampir di titik februari. semua berjalan begitu cepat, apa sudah dirasa memberi manfaat? bukankah masih banyak yang belum dipelajari? bersyukur dan kesabaran. sudahlah, yang sudah lalu toh tak bisa diperbaiki. terimalah kalau diri memang salah. terserah orang mau bilang bagaimana, Allah lebih tahu daripada mereka.

ah, tiba-tiba sudah berada di titik februari. rasanya belum pantas dikatakan siap, namun sangat tidak tepat kalau masih tidak siap. masih ada banyak sekali lubang yang harus ditambal, masih banyak sekali robek yang belum dijahit. ah, titik februari.

hujan turun dengan deras di titik februari. entah tumbuhan apa yang ingin Ia tumbuhkan di saat-saat seperti ini. semakin dekat dengan titik februari, maret sudah mulai menampakkan wajahnya..